وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ





Pengendalian Nafsu Seorang Dai

Ditulis kembali oleh: Ustd H. Eka Hardiana.
Betapa kita membutuhkan nilai-nilai Tarbiyah semacam ini. Ustadz Muhammad Ahmad Rasyid mengatakan, "Seorang da'i yang handal tidak sempurna kecuali apabila menjadikan marahnya hanya karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kalau dia sampai pada derajat Imam Ahmad bin Hambal serta bangga dengannya maka dia akan marah karena Allah,  bukan marah karena dirinya dan membelanya. Apabila dalam urusan agama maka kemarahannya memuncak hingga seakan-akan itu bukan dia. (Al-Awa'iq,  ustadz Muhammad Ahmad Rasyid, hal. 121).

Begitu pula seorang tabi'in besar syaikh Urwah bin Zubair bin Awwam,  beliau memberi kita hadiah sebuah kesimpulan tarbiyah, beliau berkata, "Terkadang sebuah kata hinaan yang menimpaku mewariskan kepadaku kemuliaan yang panjang." (Shifatush-Shafwah:2/457).

Betapa banyak kata-kata hinaan yang menimpa penghuni barisan Islam. Kalau mereka menerimanya tanpa kemurkaan dan pembelaan diri, sungguh itu menjadi penyelamat barisan dari munculnya banyak problematika,  yang menyita banyak waktu untuk menyelesaikannya. serta menjauhkan kita dari berbagai krisis yang  banyak menghabiskan waktu dan tenaga. Oleh karena itu,  Mujahid  bin Jubair tidak suka kepada orang yang marah untuk memuliakan dirinya. Beliau juga tidak suka kepada orang yang tidak marah untuk muliakan agamanya. Beliau berkata,"Barang siapa memuliakan nafsunya maka dia merendahkan agamanya,  dan orang yang merendahkan nafsunya maka dia memuliakan agamanya." (Shifatush-Shafwah: 2/539).

Setiap mukmin harus bersungguh-sungguh dalam mengawasi nafsunya sehingga jelasnya baginya apa yang diperbuat. Orang yang membiarkan nafsunya akan diperdaya olehnya dan nafsu tidak akan membiarkannya lurus sedikitpun. Secara terselubung,  nafsu akan menjeratnya sehingga dia tertipu; tertipu dari arah lisannya,  amalannya,  makanan dan pakaiannya. Karena itu, waspadalah terhadap kawan pengkhianat yang selalu ada bersamamu.
Oleh sebab itu, generasi yang unik ini selalu mengintropeksi diri dan mengawasinya karena takut tertipu dan terpedaya oleh nafsunya. Hasan Al-Basri mempunyai cerita tersendiri dalam mengoreksi dirinya. Beliau menangis sepanjang malam sehingga para tetangganya ikut menangis. Keesokan harinya salah seorang dari mereka bertanya kepadanya,"Engkau telah membuat keluarga kami menangis semalam.". Beliau menjawab, "Sesungguhnya aku berkata kepada diriku.'Wahai Hasan,  barangkali Allah melihat sebagian kejelekanmu kemudian berfirman, 'Berbuatlah semaumu Aku tidak menerima amalanmu sedikit pun.'". (Az-Zuhd,  Imam Ahmad,  hal. 431).

Umar bin Majasyi' mengisahkan, "Suatu hari Umar bin Abdul Aziz pergi ke masjid dan mengayunkan tangan ketika berjalan,  kemudian beliau berhenti dan menangis. Orang-orang bertanya kepadanya'Apa yang membuatmu menangis,  wahai Amirul Mukminin?' Beliau menjawab, 'Aku mengayunkan tanganku ketika berjalan dan aku khawatir, Allah membelenggunya nanti di akhirat'." (At-Thabaqat Al-Kubra,  Ibnu Saad 5/448).

Tatkala hati generasi ini terikat dengan Allah maka jasad mereka berada di bumi sedang hati mereka di langit.

[Lamhah Tarbawiyyah min Hayah At-Tabi'in, ustadz Asyraf Hasan Thabal]