وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ





Belajar Ukhuwah dari Kaum Muhajirin dan Anshor

Tadabbur QS Al Hasyr Ayat 8-9

Achmad Fathoni
Kita sudah sering mendengar tentang betapa menakjubkannya kehidupan ukhuwah yang terjadi antara para sahabat Rasulullohu SAW. Dan biasanya kita akan mengambil salah satu momentumnya pada peristiwa dipersaudarakannya (taakhi) antara kaum Muhajirin (dari Mekah) dan Anshor (di Madinah).

Kenapa begitu luar biasa ukhuwah yang terjalin di antara mereka?
Marilah coba kita belajar bagaimana Allah menjelaskan karakter dari 2 kelompok muslim ini.
Ternyata ada hal-hal luar biasa yang ada pada kedua kelompok umat Islam ini yang Allah SWT sebutkan dalam rentetan ayat Al Quran Surat Al Hasyr mulai ayat 8.

Dalam ayat 8, Allah SWT menyebutkan tentang karakter luar biasa dari Kaum Muhajirin. Paling tidak ada 3 yang bisa saya tangkap

1. Kaum Muhajirin ini rela berkorban (tadhiyah) dengan meninggalkan kampung halaman serta seluruh harta bendanya. Cobalah kita bayangkan, seandainya terjadi pada kita, di mana kita yang dengan susah payah sudah berhasil membangun kehidupan yang cukup mapan, sudah memiliki keluarga, rumah, kendaraan serta maisyah (penghidupan) yang layak di kota/daerah tempat kita tinggal, Tiba-tiba harus meninggalkan semuanya. Dan dengan tujuan yang mereka sendiri belum tahu kondisinya tanpa membawa bekal harta yang berarti. Bahkan sebagian dengan harus berpisah dari keluarganya, Karena masih ada yang belum mengimani Rasulullohu SAW.
Pengorbanan yang sungguh luar biasa yang sudah dipersembahkan kaum Muhajirin demi membela agama Allah SWT.

2. Karakter yang luar biasa dari Kaum Muhajirin adalah pada niatan mereka. Mereka melakukan hijrah dengan pengorbanan sedemikian rupa tidak lain adalah demi mencari karunia Allah SWT dan keridhoan-Nya.
Tidak ada niatan lainnya yang bersifat duniawi, misalkan karena pekerjaan, kedudukan ataupun wanita. Walaupun ada kisah salah satu sahabat yang ternyata berhijrah karena seorang wanita yang kemudian menjadi salah satu asbabul wurud hadist tentang niat.
Tapi mayoritas kaum muhajirin berkorban meninggalkan kampung halaman dan seluruh hartanya adalah murni karena Allah SWT.

3. Tujuan dari hijrahnya Kaum Muhajirin adalah demi menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Sekali lagi, Tidak ada tujuan lain apapun kecuali itu.

Ketiga karakter inilah yang menjadikan kaum muhajirin luar biasa, Pengorbanan yang luar biasa dan dengan niat dan tujuan yang juga luar biasa.

Dari karakter-karakter di atas, kemudian Allah menyebut kaum muhajirin sebagai orang-orang yang benar (shoodiquun)

Kemudian mari kita lihat karakter luar biasa dari saudara kaum Muhajirin yi kaum Anshor yang Allah jelaskan dalam ayat 9:

1. Kaum Anshor adalah orang-orang Madinah yang sudah beriman sebelum kedatangan kaum muhajirin. Mereka adalah orang-orang yang masuk Islam berkat dakwah Mushaf bin Umair. Yang kemudian diikuti dengan peristiwa Bai'at 'Aqobah pertama dan kedua.
Jadi landasan iman yang menjadi pondasi awal karakter lainnya yang akan kita sebutkan di bawah ini

2. Karakter kedua kaum Anshor adalah mereka mencintai kaum muhajirin yang berhijrah ke negeri mereka. Tentu kecintaan ini karena landasan iman yang telah mereka miliki sebelumnya. Tidak akan mungkin kaum Anshor menerima dengan lapang dada dan suka cita, Jika bukan karena kecintaan mereka kepada saudara kaum Muhajirin. Karena dengan kedatangan kaum Muhajirin ke Madinah dengan kondisi tanpa bekal harta, maka dapat dipastikan akan menjadi beban dalam kehidupan kaum Anshor. Tapi mereka menerima kaum Muhajirin dengan cinta dan bahagia.

3. Karakter luar biasa lainnya dari kaum Anshor adl mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada kaum muhajirin. Seperti kita ketahui kaum Muhajirin mendapatkan ghonimah/fai yang cukup besar setelah perang Badar. Dengan kondisi itu, kaum Anshor tidaklah kemudian iri dengki dan tidak suka dengan itu. Bahkan mereka lebih mengutamakan kaum muhajirin atas diri mereka sendiri (Anshor). Walaupun mereke sebenanrnya juga memerlukan apa yang diberikan kepada kaum muhajirin. Mereka ridho, ikhlas atas kaum muhajirin tanpa iri dan dengki sedikitpun. Sungguh luar biasa, dimana saat Muhajirin datang, kaum Anshor lah yang menolong mereka, Tapi saat ada ghonimah dan fai, justru Muhajirin yang banyak diberi. Justru itulah yang menunjukkan ikhlasnya mereka dalam menolong kaum muhajirin di saat kedatangan mereka.

Dari karakter inilah kemudian Allah menyebut kaum Anshor sebagai orang-orang yang beruntung (muflihuun), dikarenakan dijaga dari sifat kikir.

Dari kedua kaum ini yi Muhajirin dan Anshor, marilah kita ambil pelajaran bagi penguatan ukhuwah kita.
Marilah sama-sama kita perbaiki tingkat ukhuwah kita dengan mencontoh kaum muhajirin. Kita kuatkan pengorbanan (tadhiyah) kita serta memperbaiki niatan dari kerja-kerja dakwah kita. Kita semangati diri kita untuk terus bekerja dan beramal dalam wajihah dakwah ini. Dan bersamaan dengan itu kita selalu memperbaiki niatam kita hanya untuk mencari karunia dan keridhoaan Allah SWT serta menegakkan/menolong agama Allah SWT serta Rasul-Nya.

Di sisi lain, marilah kita belajar dari kaum Anshor yang senantiasa menguatkan ukhuwah dengan landasan keimanan dan kecintaan kepada saudaranya. Senantiasa mengutamakan kepentingan saudara kita di atas kepentingan kita sendiri serta menghilangkan iri dengki di antara kita.
Kebencian, ketidaksukaan, kedengkian serta kekikiran marilah kita buang jauh-jauh dari hati dan karakter kita.

Dan marilah kita mengamalkan doa yang diajarkan Allah SWT dalam ayat ke 10 Surat Al Hasyr
"Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun dan Penyayang."

Semoga tulisan ini bisa menambah semangat kita untuk selalu menjaga dan menguatkan ukhuwah kita dalam dakwah ini.
Dan semoga Allah SWT selalu mempersatukan kita di dunia dalam dakwah ini dan kemudian mempesatukan kita di akherat dalam surga-Nya yang kekal.
Amiin,  amiin ya robbal alamiin.

Ciangsana, 27 Syawal 1437 H - 1 Agustus 2016 M.

Ya akhii,  ana uhibbukum fillahi.


Akhukum fillahi
Achmad Fathoni