وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ





Proyek Peradaban Kita (Ust. Anis Matta, diambil dari buku “Menikmati Demokrasi)

Sejak awal kita sudah menetapkan misi dakwah ini. Yang ingin kita raih adalah ridhaAlloh swt. dengan beribadah kepada-Nya. Dan, ibadah itu berupa menetapkan dan menyemai seluruh kehendak-kehendak Alloh SWT. yang Ia turunkan dalam bentuk syariat (agama) dalam kehidupan kita sebagai individu, masyarakat, dan negara.  Maka, kerja kita dalam dakwah ini adalah membangun sebuah kehidupan berdasarkan disainAlloh SWT.

Membangun sebuah kehidupan yang islami, dengan begitu, adalah cita-cita dakwah kita. Tentulah itu merupakan pekerjaan berat yang sangat melelahkan, membutuhkan waktu panjang yang melampaui umur individu bahkan umur generasi. Ia juga memerlukan sumber daya manusia dalam semua lapisann masyarakat untuk semua sektor kehidupan dengan semua jenis profesi dan keahlian. Selain itu, ia juga membutuhkan sumber daya fisik dan dukungan finansial yang sangat besar. dan lebih dari itu semua, ia membutuhkan energyruhiyah dan semangat jihad serta elan vital yang dahsyat; konsep, metode dan sistematika perjuangan yang jelas lagi mantap; gagasan dan pemikiran brilian serta inovasi yang berkesinambungan; kepemimpinan yang kuat dengan organisasi yang solid.

Membangun kehidupan yang Islami adalah sebuah proyek peradaban raksasa. Proyek besar bertujuan merekonstruksi pemikiran dan kepribadian manusia muslim agar berpikir, merasa, dan bertindak sesuai dengan kehendak Alloh SWT. atau dengan referensi Islam. Kemudian membawa manusia muslim baru itu ke dalam kehidupan nyata, dengan kesadaran barunya, untuk menata ulang seluruh kehidupan sektor masyarakatnya agar hidup dengan budaya, sistem, hukum, dan institusi yang seluruhnya jelmaan kehendak-kehendak Alloh SWT. Kemudian umat muslim yang baru itu, yang telah menjadi model representativedari kehendak-kehendak Alloh SWT, keluar dari dirinya sendiri melampaui wilayah kepentingan spesifiknya untuk menebar bunga hidayah dan rahmat kepada seluruh umat manusia, menciptakan taman kehidupan yang seimbang dimana setiap orang menemukan keamanan yang diciptakan oleh keadilan dan kenyamanan yang dilahirkan oleh kemakmuran, dimana setiap orang merasakan kemudahan yang diciptakan oleh ilmu pengetahuan dan harapan serta optimisme yang dilahirkan oleh agama. Proyek peradaban ini bertujuan menciptakan taman kehidupan dimana bunga-bunga kebaikan, kebenaran, dan keindahan tumbuh bersemi. Dan taman itulah yang kelak menjadi saksi kemanusiaan dan sejarah.

“Dan demikianlah Kami jadikan kamu sebagai umat pertengahan, supaya kamu menjadi saksi atas manusia, dan supaya Rasul itu (Muhammad saw) menjadi saksi atas kamu sekalian.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Pekerjaan-pekerjaan dakwah untuk menyelesaikan proyek itu harus dilakukan dalam empat tahap. Pertama, membangun sebuah organisasi yang kuat dan solid sebagai kekuatan utama yang kuat dan solid sebagai kekuatan utama yang mengoperasikan dakwah. Inilah yang kita sebut dengan “mihwartanzhimi”.  Organisasi ini tulang punggung dakwah dan karenanya harus kuat memikul beban berat dalam waktu yang panjang. Supaya tulang punggung itu kuat, harus di isi oleh orang-orang yang juga kuat dan tangguh dalam seluruh aspek kepribadian. Sebab, merekalah sesungguhnya yang disebut pemimpin umat atau lokomotif yang akan membawa gerbong panjang umat ini. Untuk mencetak pemimpin-pemimpin umat itu, kita memerlukan proses pembinaan dan kaderisasi yang sistematis, integral, dan waktu yang relatif  panjang.

Mereka yang dipilih untuk dikader dan dibina haruslah orang-orang terbaik yang ada di masyarakat. Mereka memiliki bakat, intelegensi, dan kesiapan dasar untuk melakukan pekerjaan besar serta memikul amanah yang berat. Karenanya, kaderisasi atau tarbiyah menjadi mutlak, sebab inilah mesin pencetak pemimpin-pemimpin umat.

Kedua, membangun basis sosial yang luas dan merata sebagai kekuatan pendukung dakwah. Inilah yang disebut dengan mihwarsya’bi. Kalau basis organisasi bersifat elitis-eksklusif, maka basis sosial bersifat masif  dan terbuka. Kalau basis organisasi berorientasi pada kualitas, basis sosial berorientasi kuantitas. Kalau organisasi meretas jalan, maka masyarakatlah yang akan melaluinya. Kalau para pemimpin melihat ke depan dengan pikiran-pikirannya yang jauh,  masa menjangkau ke depan dengan tangan-tangannya yang banyak. Kalau pemimpin yang hebat mendapatkan dukungan publik yang luas, maka akan terbentuklah sebuah kekuatan dakwah yang dahsyat. Begitulah kita menciptakan sinergi antara pemimpin dan umatnya, antara kualitas dan kuantitas. Kedua-duanya mempunyai peranan yang sama strategisnya.

Kalau organisasi dibentuk melalui rekrutmen kader,  masa dibentuk melalui opini publik. Kalau kader pemimpin dibentuk melalui tarbiyah dan pengkaderan, masa dibentuk melalui media masa dan tokoh publik. Kalau kader terpesona pada pikiran karena tingkat intelektualitasnya yang tinggi, masa terpesona pada tokoh karena kadar emosinya yang dominan.Yang ingin kita capai di sini adalah terbentuknya opini publik yang Islami, struktur budaya dan adab-adab sosial yang Islami, dominasi figur dan tokoh Islam dalam masyarakat.

Ketiga, membangun berbagai institusi untuk mewadahi pekerjaan-pekerjaan dakwah di seluruh sektor kehidupan dan di seluruh segmen masyarakat. Ini yang disebut dengan mihwarmuassasi. Di sini dakwah memasuki wilayah pekerjaan yang sangat luas dan rumit. Karena itu, perlu pengelompokan pekerjaan. Kita membutuhkan semua jenis institusi sosial untuk mewadahi semua aktivitas sosial; kita membutuhkan semua jenis institusi ekonomi untuk mewadahi semua aktivitas ekonomi; kita juga membutuhkan semua jenis institusi politik untuk mewadahi semua aktivitas politik. Selain institusi yang kita bentuk, kita juga perlu mengisi institusi-institusi sosial, ekonomi, politik, dan militer yang sudah ada, baik yang ada di masyarakat maupun yang ada di pemerintahan.

Kalau dalam tahap pembentukan basis sosial kita menyebar kader-kader dakwah ke dalam masyarakat, maka dalam tahap institusi kita menyebar kader ke seluruh institusi yang ada. Kalau dalam tahap pembentukan basis sosial kita melakukan mobilitas horizontal, maka dalam tahap institusi kita melakukan mobilitas vertikal. Kader-kader dakwah haruslah mampu mengisi struktur yang ada di lembaga tinggi negara: legislative, eksekutif, dan yudikatif. Kader-kader dakwah juga harus mampu mengisi struktur yang tersedia di lembaga-lembaga ilmiah, ekonomi, sosial, dan militer. Dengan begitu terbentuklah jaringan kader di seluruh institusi stragtegis. Ini merupakan pranata yang dibutuhkan untuk menata kehidupan bernegara yang Islami.

Kalau basis masa bertujuan membentuk opini publik yang Islami, maka basis institusi bertujuan memberikan legalitas politik terhadap opini publik itu.

Keempat, akhirnya dakwah ini harus sampai pada tingkat institusi negara. Sebab, institusi negara dibutuhkan dakwah untuk merealisasikan secara legal dan kuat seluruh kehendak Allah swt. atas kehidupan masyarakat. Inilah yang kita sebut mihwardaulah. Negara adalah sarana bukan tujuan. Dan, negara merupakan institusi terkuat dan terbesar dalam masyarakat. Kebenaran harus punya negara karena –kata Ibnu Qoyyim– kebatilan pun punya negara.


Melalui institusi negara itulah kita berbicara kepada dunia seperti yang pernah Rasulullah saw. katakan pada Heraclius, “Masuklah ke dalam Islam supaya kamu selamat!” Atau, kita katakana kepada mereka seperti yang pernah diucapkan Nabi Sulaiman kepada Ratu Balqis, “Ini (surat) datang dari Sulaiman, dan sesungguhnya (ia datang) dengan nama Alah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Naml: 30)