وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ





Wahai Ummahat, Agar Suami Makin Lengket, Lakukanlah Hal Ini

Kepada para istri sholehah, selayaknya senantiasa bersyukur atas karunia Allah SWT yang telah mempertemukan kita dengan pasangan kita. Misteri jodoh yang Allah sudah tulisakan di lauhulmahfudz telah terjawab sudah, ternyata “dia” yang menjadi jodoh kita. Seseorang yang bisa jadi sebelumnya sama sekali belum kita kenal, atau pun ternyata pasangan kita tidak jauh dari aktivitas yang kita lakukan dulunya. Semua sebelumnya misteri yang akhirnya terjawab sudah.
Kita harus menjadi makhuk yang banyak bersyukur karena mempertemukan kita dengan lelaki yang sholeh yang bisa menjadi pemimpin dalam rumah tangga kita dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Dan semakin lama ketika rasa sayang dan cinta semakin bersemi terhadap pasangan kita, kita akan semakin berusaha memberikan yang terbaik untuk pasangan kita.
Tidak terlalu sulit kiranya ketika kita terus mencari formula yang tepat untuk bisa menjadi yang terbaik di hadapan suami kita. Teringat kembali sebuah hadis yang menjadi inspirasi untuk menjadi istri yang sholehah. ”Istri yang paling baik adalah, bila suami memandang kepadanya memberikan kebahagiaan; Bila menyuruhnya, mentaatinya; Bila sang suami bepergian, ia menjaga dirinya dan hartanya.” (HR An-Nasai dan dishahihkan oleh al-Iraqi).
Tiga poin ciri istri yang baik menurut Islam yang bisa disarikan dari hadis di atas, yaitu
1. Istri yang baik adalah, bila suami memandang kepadanya memberikan kebahagiaan
Anugerah terindah ketika kita memiliki suami yang sholeh dan senantiasa ber mu’asyarah bil ma’ruf dengan istrinya. Dan begitu juga sebaliknya sebagi istri pun kita juga harus berlaku demikian pada suami kita.
Tidak terlalu sulit untuk menjadi indah dipandang di hadapan suami. Kalau boleh dianalogikan ketika kita pergi ke kantor, hotel maupun bank, kita akan disambut dengan pelayanan yang prima oleh resepsionis. Kita akan terasa nyaman sekali ketika kita diperlakukan ramah dan lemah lembut oleh mereka. Sehingga kita pun nyaman memberikan maupun menggali informasi darinya.
Ketika terhadap orang yang belum kita kenal pun resepsionis memberikan perlakuan prima pada custumer-nya, maka kita sebagai seorang istri harusnya bisa memberikan pelayanan yang lebih prima lagi terhadap suami kita. Melalui sifat kelemah lembutan yang dimiliki seorang wanita, yang akan membuat pasangan/ suami kita merasa nyaman berada di dekat kita.
2. Istri yang paling baik adalah, yang mentaatinya suaminya
Insya Allah kita semua sudah faham, bagaimana ketaataan pada suami kita tempatkan. Kita harus taat pada suami selama perintah suami bukan perintah yang melanggar syariat Allah SWT. Jadi selama suami memerintahkan kebaikan yang tidak melanggar syariat-Nya maka disitu dibutuhkan keridhaan kita untuk memenuhi perintahnya.
"Perempuan yang sholihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)" (QS. 4:34)
3. Istri yang paling baik adalah ketika sang suami bepergian, ia menjaga dirinya dan hartanya.
Ketika sang suami bepergian, sang istri harus bisa menjaga kehormatan dirinya. Misalnya dengan tidak menerima tamu laki-laki ke dalam rumah, karena sangat besar bahayanya. Termasuk disini adalah memelihara harta suami dengan kita tidak memboroskan dan menghambur-hamburkan uang.
Marilah kita senantiasa evaluasi, apakah selama ini sudah sepenuhnya berkhidmat pada suami kita sehingga suami kita menjadi bahagia? Marilah kita lakukan dengan penuh ketulusan dalam berkhidmat, karena kita ingin mendapatkan ridho-Nya dan memperoleh jannahnya. Sesuai hadis Rasulullah SAW, ”Jika seorang istri itu telah menunaikan salat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya,dan taat kepada suaminya, maka akan dipersilakan kepadanya: masuklah ke surga dari pintu mana yang kamu suka.” (HR Ibnu Hibban, al-Bazzar, Ahmad dan Thabrani, Albani menyatakan keshahihannya).
Penulis : Enny Musfiroh Setyarini