
Berbahagialah yang saat ini sudah menemukan pasangan hidupnya. Saatnya merangkai cinta dan cita untuk mengarungi rumah tangga. Bagi pasangan muda, pernikahan merupakan gerbang awal yang akan dijalani dalam kehidupan rumah tangga yang sebenarnya. Bermula dari pernikahan itulah akhirnya tersemat predikat suami dan istri, yang melekat di dalamnya hak dan kewajiban yang musti dilaksanakannya.
Berangsur proses berkeluarga berjalan dalam hitungan bulan, kemudian berganti tahun, akan tersimpan sejuta cerita dalam merangkai cinta. Mulai disibukkan dengan pekerjaan, dengan anak sehingga terkadang membuat permasalahan yang dihadapi akan semakin komplek.
Dalam kondisi seperti ini, pentingnya memelihara rasa keberduaan ini penting kita ciptakan sejak awal pernikahan kita, mengapa? Mengapa "keberduaan"?
Ya, karena sejak menikah, kita bukan lagi sebagai individu. Tak ada lagi aku dan kamu, tapi yang ada adalah kita. Visi misi pernikahan kita, kebutuhan kita, kepentingan kita, urusan kita, dan kita-kita yang lain.
Ya, karena sejak menikah, kita bukan lagi sebagai individu. Tak ada lagi aku dan kamu, tapi yang ada adalah kita. Visi misi pernikahan kita, kebutuhan kita, kepentingan kita, urusan kita, dan kita-kita yang lain.
Ketika rasa "keberduaan" ini kita miliki, maka segala riak, badai, karang dan seabrek ujian akan mudah kita hadapi. Tak percaya? Apa contohnya?
Dalam urusan penanganan terhadap anak misalnya. Ketika tak ada rasa keberduaan ini, bisa jadi pasutri akan mengalami konflik sendiri karena belum saling menyatukan suara dan sikapnya. Yang terjadi malah anak tak mau nurut dengan bapak atau ibunya. Dan lebih parah lagi anak akan berpihak di salah satunya dan membenci pihak yang melarang tindakannya. Sungguh bahaya kan?
Kemudian menghadapi mertua. Usahakan agar kita punya satu suara ketika memberikan masukan kepadanya (artinya bicaralah berdua dulu dan mufakatlah dengan pasangan Anda). Jadi bukan lagi sudut pandang anak atau menantu tapi sudut pandang berdua yaitu pasutri. Sehingga tidak akan ada pandangan dari mertua bahwa kita tak rukun, tak kompak.
Bisa dipastikan kalau kita belum bisa memelihara keberduaan ini, pasti akan sering terjadi konflik. Bahkan bisa jadi konflik yang sebenarnya masalah sepele, tapi bisa menguras energi.
Menghadapi ujian pun juga demikian, jadi ujian bukan semata-mata ujian sang istri maupun ujian suami. Tapi ujian apa pun yang dihadapi menjadi ujian bersama.
Ketika suami atau istri punya masalah, bicarakan dulu dengan pasangan, jangan kemudian malah menyebarkan aib pasangan yang malah akan memperkeruh suasana. Tak jarang masih ditemui ketika ada masalah sedikit, cerita ke orang tua, yang akhirnya malah membebani orangtua. Dikira pasangan kita tak bisa membahagiakan anaknya. Oh no!
Ketika suami atau istri punya masalah, bicarakan dulu dengan pasangan, jangan kemudian malah menyebarkan aib pasangan yang malah akan memperkeruh suasana. Tak jarang masih ditemui ketika ada masalah sedikit, cerita ke orang tua, yang akhirnya malah membebani orangtua. Dikira pasangan kita tak bisa membahagiakan anaknya. Oh no!



